Wajah itu yang sebenarnya ingin kujauhi
Kurasa semakin mencekatku
Dalam ketidakpastian
Dalam banyaknya pertanyaan
Untuk siapa senyumnya itu?
Untuk siapa keramahannya itu?
Benar untukku,atau mungkin hanya aku yang terlalu merasa
Aku takut…
Tenggelam lagi dalam kebodohan yang berkali kali ku buat
Aku bosan alami kejadian yang buat aku merasa menjadi orang bodoh
Ya Tuhan…
Tak bolehkah aku memohon lagi
Jauhkan dia dari aku sebelum aku kembali luka
Ya Tuhan…
Aku sudah bosan menangis
Aku sudah letih menahan rasa sakit yang ingin sekali aku teriakkan
Ya Tuhan…
Buanglah rasa cinta yang cuma bisa buat aku sakit
Tak terasa…
Belaian malam yang senantiasa membelai
Kulit dingin tersapu angin
Tersadar…
Terbangun dari lamunan panjang
Selama ini aku bermimpi…
Tertawa…
Terbahak…
Bahkan menangis…
Hanya dalam mimpiku saja…
Sekarang…
Mulai kutatap dunia yang berpura pura ramah padaku
Hanya tampakkan wajah palsu penuh senyum
dibalik semua tingkah bengis…
Terlalu bodoh aku…
Terlalu naif memandang kisah yang mungkin saja hanya karangan…
Ini dunia…
Yang mau atau tidak harus terus kuhadapi
Aku manusia…
Berusaha tak menjadi pajangan palsu
Pangeranku milik banyak orang
Padahal yang mencintainya benar, hanya aku seorang
Tapi bukan berarti aku menang
Karena ia telah menjalin benang
Dengan Perempuan yang pertama disayang
Lalu, aku disini cuma bisa mengenang
Apa yang telah ia berikan
Cukup membuatku senang
Walau cinta ini tak tenang
Pun nyaris tak bisa dipinang
Dan membuatku seakan belang-belang
Hidup cuma aku yang tahu
cuma aku yang rasa
tapi mengapa aku juga harus hidup untuk mereka?
untuk orang-orang yang sama sekali tak peduli padaku
pada tangisku…
pada gembiraku…
pada deritakku…
apa aku terlallu menuntut banyak?
sudah cukup hidupku untuk mereka
sudah cukup letih langkah ini mengikuti bayangan
aku ingin hidup sendiri
dibawah bayangkku sendiri
dibawah langitku sendiri
aku ini ingin hidup bukan karena mereka